5 “Karya Besar” Sukarno yang Terlahir di Bandung

5 “Karya Besar” Sukarno yang Terlahir di Bandung Unic77 Dunia Misteri adalah blog yang berisi tentang berita unik, berita lucu, berita aneh, dan berita mister yang belum terungkap. Disini admin akan berusaha memberikan berita unik setiap harinya sehingga para pembaca tidak sampai bosan. Admin juga akan selalu memberikan yang terbaik untuk seluruh pembaca, semoga dengan adanya blog ini admin dan para pembaca bisa saling bersilaturahmi dan bisa saling membantu. Selamat Membaca :)

“Aku langsung jatuh cinta dengan Bandung”, begitu kesan Sukarno mengenai Kota Bandung. Dan memang, Sukarno betul-betul terikat dengan kota berjuluk Parijs van Java ini. Ia tumbuh menjadi mahasiswa yang kritis, bahkan kemudian terlibat aktif dalam kegiatan politik kebangsaan yang membawanya ke beberapa penjara di Bandung.

Petualangan Sukarno di Bandung tahun 1920-1933, adalah saat-saat pemikiran Sukarno paling cemerlang,  memukau dan semua pemikiran terbaiknya memang lahir di Bandung. Mulai dari konsep yang disebutnya Marhaenisme, atau pidato pembelaan yang menggugah dan luar biasa yaitu Indonesia Menggugat, dan juga risalah Mencapai Indonesia Merdeka yang ditulis di perkebunan teh di selatan Bandung. Jejak-jejak perjuangan Sukarno, beberapa diantaranya masih bisa kita lihat dan saksikan di Kota Bandung ini. Berikut 5 jejak yang terkait Sukarno di Bandung.

1. Konfrensi Asia Afrika (KAA)
Sepak terjang Presiden Soekarno di dunia Internasional, tak dapat diragukan lagi. Salah satu gagasan besarnya menyangkut keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, yang masih belum merdeka dan belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Dari alasan itulah Presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.

Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser(Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Dan sejak saat itu pula Kota Bandung dikenal sebagai Ibu Kotanya Asia-Afrika. Bukti dari keberhasilan diplomasi Sukarno melalui KAA, masih bisa kita rasakan dan saksikan di Museum KAA di Gedung Merdeka Bandung.

Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan pada tahun itu ia memunculkan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat (pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

2. Pledoi Indonesia MenggugatBung Karno begitu masyhur dengan pledoi “Indonesia Menggugat” dalam peradilan Landraad, Bandung Desember 1930. Gedung tempat pengadilan yang begitu monumental itu, kini masih tegak berdiri sebagai salah satu situs penting dalam sejarah menuju Indonesia Merdeka. Gedung itu pun dinamakan Gedung Indonesia Menggugat. Diambil dari judul pembelaan Bung Karno di hadapan sidang pengadilan kolonial.

Indonesia Menggugat sejatinya merupakan pledoi pembelaan Bung Karno saat di sidangkan di Landraad Bandung, pada tahun 1930. Bung Karno, bersama tiga rekannya: Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik penjara Bung Karno menyusun dan menulis sendiri pledoinya tersebut. Isinya mengupas keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjelma menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme.

3. Marhaenisme
Marhaenisme diambil dari nama Marhaen yang merupakan sosok petani miskin yang ditemui Sukarno. Kondisi prihatin yang dialami seorang petani miskin itu telah menerbitkan inspirasi bagi Sukarno untuk mengadopsi gagasan tentang kaum proletar yang khas Marxisme. Pertemuan Sukarno dengan petani Marhaen tersebut terjadi di Bandung selatan yang daerah persawahannya terhampar luas. Ia menemui seorang petani yang menggarap sawahnya dan menanyakan kepemilikan dan hasil dari sawah itu. Yang ia temukan adalah bahwa walaupun sawah, bajak, cangkul adalah kepunyaan sendiri dan ia mengejakannya sendiri hasil yang didapat tidak pernah mencukupi untuk istri dan keempat anaknya.

Sejak 1932, ideologi Marhaenisme telah mewarnai wacana politik di Indonesia. Pada 4 July 1927 ia mendirikan PNI dimana Marhaenisme menjadi asas dan ideologi partai di tahun 1930-an. Dalam bukunya berjudul Indonesia Menggugat, Sukarno sangat menekankan pentingnya penggalangan massa untuk sebuah gerakan ideologis. Menurut penafsiran Sutan Syahrir, Marhaenisme sangat jelas menekankan pengumpulan massa dalam jumlah besar. Untuk ini, dibutuhkan dua prinsip gerakan yang kelak dapat dijadikan pedoman dalam sepak-terjang kaum Marhaenis. Ditemukanlah dua prinsip Marhaenisme, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.

4. Risalah Indonesia Merdeka
Bung Karno jauh-jauh hari sudah menjabarkan visi dan misi kemerdekaan Indonesia yang dituliskannya di Pangalengan pada 30 Maret 1933 yang dikenal dengan risalah “Mencapai Indonesia Merdeka”. Risalah ini ditujukan kepada “orang yang baru menjejakkan kaki di gelanggang perjuangan”. Di luar pengantar yang tanpa sub-judul, risalah ini terdiri dari  10 sub-judul: 1. Sebab-sebabnya Indonesia Tidak Merdeka, 2. Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern, 3. “Indonesia, Tanah Yang Mulya, Tanah Kita Yang Kaya; Disanalah kita BeradaUntuk Selama-lamanya” 4. “Di Timur Matahari Mulai Bercahaya, Bangun dan Berdiri, Kawan Semua”…, 5. Gunanya Ada Partai, 6. Indonesia Merdeka Suatu Jembatan, 7. Sana Mau ke Sana, Sini Mau ke Sini’ 8.   Machtsvorming, Radikalisme, Massa-Aksi, 9. Diseberangnya Jembatan Emas, 10. Mencapai Indonesia-Merdeka!

5. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927.PNI dianggap membahayakan Belanda karena menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan kemerdekaan sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan pada tanggal 24 Desember 1929. Penangkapan baru dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 terhadap tokoh-tokoh PNI di Yogyakarta seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja.

PNI atau Partai Nasional Indonesia adalah partai politik tertua di Indonesia. Partai ini didirikan di bandung pada 4 Juli 1927 dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya pada saat itu adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo.

source: http://old.uniknya.com/2012/09/27/5-karya-besar-sukarno-yang-terlahir-di-bandung/

5 “Karya Besar” Sukarno yang Terlahir di Bandung Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown